#asthierfantrip 20 Hari Traveling Jawa – Bali : Semarang

17 September 2015

Trip kami berlanjut ketika sampai di Stasiun Semarang Poncol, jam 10.00 waktu itu. karena harus bayar sewa motor, saya & Erfan langsung cari ATM center. ternyata seperti di Tegal, ATM BRI juga offline ๐Ÿ˜ฆ Akhirnya mau gak mau transfer dari m-banking dulu ke rekening BCA saya baru ambil duit, itu juga di ATM BNI (Sesama).
Setelah tarik tunai beres, kami langsung menuju parkiran motor, karena Bapak Hartadi dari AW Trans Sewa Motor Semarang (contact: 081949971899) sudah nunggu duduk di bawah pohon, katanya waktu itu. Ketemu, transaksi, bla bla bla, kemudian muncul deh pertanyaan yg selalu ditanya penyewa motor, “mau jalan kemana saja di …. (kali ini Semarang)?”

Karena tau saya & Erfan mau ke Pagoda Watugong, beliau mengingatkan, “Pagoda ada 2 lho ya. Yang saya suka itu yang Watugong. Waah, itu bangunannya bagus, suasananya juga… seperti di Beijing deh. Hahaha..” Ok deh! Saya semakin bersemangat abis denger Bapak Hartadi cerita ๐Ÿ˜€ Oh ya, karena setelah Semarang kami akan jalan ke Yogyakarta, Pak Hartadi juga kasih info kalau sebaiknya berangkat dari Terminal (bayangan) Sukun untuk cari PO. Bus. Jadi motor bisa kami balikin disana. Ok deh! Gak lupa sebelum cabut dari Stasiun, kami check in dulu dengan foto ini ๐Ÿ™‚

DCIM101MEDIA

DCIM101MEDIA

Check in sudah, pajang foto muka sendiri sudah, saatnya berpetualang. pertama kami coba check in dulu. walaupun masih jauh dari jam check in (jam 14.00), yg penting coba dulu. minimal bisa numpang taro tas carrier dulu deh hehe. Alhamdulillah begitu sampai di Hostel Imam Bonjol, kamar sudah tersedia. jadinya bisa taruh carrier, pindahin barang berharga lalu cabut buat jalan-jalan. Hostel Imam Bonjol ini letaknya strategis, dekat dari Bundaran Tugu (Gedung Lawang Sewu), depannya SMA 3 Semarang dan posisinya ada di lantai 2 ruko yg mana bawahnya adalah Indomart jadi kalau siang suka ada adik-adik SMA pada jajan ๐Ÿ˜€

Sebelumnya saat browsing saya ย lihat harga kamar di Imam Bonjol Hostel Rp 160.000/malam, tapi karena waktu itu tiket.com ada diskon, jadinya kami dapat Rp 291.000 untuk 2 malam. lumayan. fasilitasnya sudah termasuk AC dengan kasur 2 in 1 sorong & selimut, tapi hanya itu. kamar mandi di luar, gak ada sarapan & handuk. resepsionisnya ramah-ramah banget (ada 2, satu perempuan & satu laki-laki), suasananya waktu itu juga ramai tp gak ricuh hehe. jadi gak serem tp juga gak saling mengganggu. ini lokasinya.

Dan tujuan kami yg pertama adalah Pagoda Watugong.

DSC_1971

DSC_1974

Bener kata Bapak Hartadi, bangunannya baguuuss, parkirannya luas. saya memang suka bangunan berwarna-warni sih, jadi begitu kesini seneng banget. mengenal adat, budaya yg belum pernah dikenal sebelumnya. oh ya, kalau naik ke atas (tempat sembahyang), kita wajib copot alas kaki. gak boleh masuk ke tempat doa dan harus hormati kalau ada yg lagi sembahyang. masuk ke sini gratis, cuma bayar parkir Rp 2.000. Waktu kami kesini hanya ada beberapa pengunjung yg juga foto-foto.

DSC_1976

DSC_1977

DSC_1980

DSC_1985

DSC_1990

DSC_1995

DSC_1996

DSC_1997

DSC_2000

DSC_2003

DCIM101MEDIA

DCIM101MEDIA

DCIM101MEDIA

DSC_2024

Selesai foto dan bergaya, saya & Erfan cabut untuk makan siang di salah satu rumah makan Sate terkenal di Semarang, yaitu

Sate Sapi Pak Kempleng!!

Saya inget ketika di tahun 2008, sekeluarga di rumah (Ibu, Kakak-kakak dan saya) “dibawa” Om (adiknya Ibu) berlibur ke rumah adik ipar beliau di Semarang, tanggal 17 Agustus waktu itu. lalu istrinya, Tante Wanny ngajak kami serombongan 3 mobil makan Sate Pak Kempleng ini. dulu penyajiannya, 20 tusuk sate langsung ditaru di meja, jadi masing-masing dari kami sudah siap sama bumbu cocolannya, saus kacang & lontong. saya inget betul, makannya melebihi jatah seharusnya, sangking enaknya dan lokasinya adalah di RM Sate Sapi Kempleng 2 yg sekarang. kenangan ini lah yg jadi salah satu alasan kenapa tanggal 17 Agustus saya & Erfan sudah harus sampai di Semarang ๐Ÿ™‚

Saya makan di RM Sate Sapi Pak Kempleng 1 bareng Erfan, dan rame sekali. kalau diperhatiin, gak ada yg naik motor kecuali kami. semua pengunjung naiknya mobil. hihi, PD aja. toh sama makannya Sate Sapi. kami pesan 15 tusuk; 13 daging, 2 paru dan 1 jantung. harganya sama Rp 4.000/tusuk. ditambah lontong dan es teh tawar.

DSC_1969

Rasanya waktu daging sapinya masuk ke mulut… kayak kembali ke tahun 2008. bedanya kali ini kita harus pilih sendiri bagian sate, lalu baru minta dibakar. jadi harus nunggu & berebut sama pengunjung lain karena gak ada nomor antrian. duduk pun rapet sama pengunjung sebelah. tapi gak mengurangi sensasi nikmatnya kelembutan Sate Sapi ini. Erfan sampe berkali-kali bilang, “enak banget. hmm. enak!” buat saya Parunya top markotop. Alamatnya

Sate Sapi “Pak Kempleng” I
Jalan Diponegoro No. 265, Ungaran

Selesai makan siang, rencana berikutnya adalah ke MURI atau Museum Rekor Indonesia. Tp kayaknya karena hari libur, gerbang masuknya ditutup. Jadinya kami menuju ke objek wisata selanjutnya, yaitu

Brown Canyon

DSC_2114

Bukit-bukit di Brown Canyon ini sebenarnya terbentuk dari hasil urug bebatuan kapur, tanah & pasir untuk pembangunan kota Semarang. Tahunan berlangsung tapi gak semua bagian batu bisa diurug, sisanya jadi batuan tinggi bahkan bukit.

Baru sampai disini aja saya senang sekali, merasa takjub akan hasil tebing yg tercipta. Foto di bawah ini menggambarkan bagian tanah yg sudah diurug sampai dalam sekali, dengan bagian yg juga luas banget. Kelihatan kan di ujung sana ada excavator, keciiil banget? Itu karena wilayah yg dipakai urug luaaas banget.

DSC_2041

DSC_2096

DCIM101MEDIA
berasa di Colorado, Amerika ๐Ÿ˜‰

DSC_2111DCIM101MEDIADSC_2132

DSC_2078DSC_2136

Perlu diperhatiin kalau mau hunting foto disini, usahakan datang hari libur, siang menuju sore hari karena sebenarnya pengurugkan wilayah ini masih berlangsung. Kalau datang di hari biasa, kita bisa ganggu para pekerja, debunya jg lebih banyak. Kemarin selama saya & Erfan di Brown Canyon, banyak nutup mata waktu ada angin kencang lewat. Jalanan menuju satu urugan ke urugan lainnya juga masih dari batu berdebu, jadi hati- hati ya. Pakai sepatu, siapin masker & payung (kalau perlu).

Diluar itu, kita bisa menikmati kawasan yg keren banget ini. Gak perlu lah ke Amerika, Indonesia punya spot foto yg keren yg namanya Brown Canyon ๐Ÿ™‚

DSC_2058DSC_2061

DSC_2042DSC_2043DCIM101MEDIA

Gak terasa udah semakin sore, orang juga semakin banyak yg datang. Ada yg pasangan, keluarga bahkan foto pre wedd. Itu tandanya untuk saya & Erfan cabut. Kami kemudian menuju ke Jalan Kemuning untuk makan Nasi Ayam.

Sebelumnya saya dapat alamat Nasi Ayam Bu Wido yg di Jalan Kemuning, tp setelah dicari gak ketemu. Browsing lg di atas motor, ternyata pindah ke Jalan Melati Selatan. Ini lokasinya.

Sampai lokasi ternyata Warung Makan Bu Wido ini ramai sekali, mungkin karena hari libur (juga karena rasa?). Langsung cari tempat duduk trus pesan 2 porsi Nasi Ayam. Isinya ada nasi, ayam suwir, krecek, tahu bacem, 1/2 telor pindang dan sayur labu. Saya nambah sate usus & telor puyuh pastinya. Satu porsi Nasi Ayam Rp 8.000, satenya Rp 2.000/tusuk.

Rasanya ya enak ๐Ÿ˜€ kuah santannya gurih, porsinya pas dengan harganya hahaha. Tp karena habis ini mau jajan lagi jd gak masalah perut kurang kenyang.

DSC_2341

Tapi sebelum lanjut kulineran, kami balik dulu ke hotel buat bersih-bersih sisa dari Brown Canyon. Lalu jam 19.30 kami sudah ada di jalan lagi menuju Tahu Gimbal punya Pak Edy. Tp sebelum itu, saya bilang Erfan mau naik sepeda lampu dulu di Simpang Lima. Berkali-kali ngelewatin lama-lama pengen juga haha. Apalagi sepedaannya masih di atas trotoar, bukan di jalan raya kayak di Alun-alun Yogya.

DSC_2150

Muterin Simpang Lima cari sepeda yg ditaksir (udah kayak mau beli aja..), akhirnya kami parkir motor di seberang. Bayar Rp. 35.000 untuk 1 kali putaran naik sepeda lampu, pelengkapnya adalah musik kencang & bonus difotoin Mas Penyewa Sepeda ๐Ÿ˜€

ย 
Genjotnya sih gak seberapa, tapi nahan stang speda biar ke kiri itu yg pegel (stangnya pengkor, miring ke kanan). Lanjut abis olahraga, kami cari Tahu Gimbal Pak Edy yg ternyata pindah lokasi juga. Lokasinya ada di Taman KB, barengan sama warung lesehan jajanan kuliner Semarang lainnya, berjejer rapih di atas trotoar. Saya duduk di samping meja para muda-mudi lagi nongkrong lalu pesan Tahu Gimbal & Es Duren masing-masing 1 porsi saja, untuk dimakan berdua Erfan.

DSC_2346
Tahu goreng, telor ceplok (ooh, my favorite!), potongan kol, kerupuk udang dengan sambel kecap. Nyam! Harganya Rp 12.000/porsi. Kalau Es Durennya sebenarnya hanya es serut pakai sirup & daging durian. Harganya Rp 15.000/porsi. Perut akhirnya kenyang beneran, saatnya kembali ke hotel untuk istirahat sebelum besok jalan jauh menuju Gedong Songo.

18 September 2015

Dari pagi jam 08.00 saya & Erfan sudah siap untuk jelajah Semarang lagi. Tp sebelumnya kami sarapan dulu di Asem-asem Koh Liem.

Tempat makan ini terkenal banget dan pasti muncul kalau Googling kuliner Semarang. Sebenarnya Erfan gak suka makanan yg asam, tp karena tau ini dari daging jd mau ๐Ÿ™‚

DSC_2158

Makanan ini ngingetin saya sama makanan Ibu di rumah. Asem-asem Daging (yak iya laah..) pake potongan belimbing sayur atau belimbing wuluh. Tp di Koh Liem ini pakai lemak sapi juga jadi oh, rasanya enak sekali. Gurih, asem, lemaknya empuk. Makannya pake nasi panas, minumnya es the tawar. Sedeeep! Asam-asamnya saja harganya Rp 25.000/porsi. Setelah sarapan kami jalan kaki sedikit ke kanan (dari arah Rumah Makan Koh Liem), menuju jajanan Lekker Paimo. Saat itu sekitar jam 10.00 kurang, tp ruamenyaaa. Jd yg pertama harus dilakukan adalah tulis pesanan Lekker & nama kita, kasih ke penjual lalu tunggu sampai dipanggil yg artinya Lekker kita sudah siap. Sesuai reputasinya, beli Lekker di tenda kecil ini yg lama adalah nunggunya.

Browsing-browsing di internet dapat info kalau bisa sampai 2 jam nunggu nama kita dipanggil. Beruntung gak sampai 1 jam nama saya udah dipanggil. Waktu itu saya pesan 4 porsi, 2 manis 2 gurih. Ternyata ini yg bikin antrian panjang. Satu pengunjung bisa pesan 4 sampai 10 Lekker sekaligus untuk dibawa pulang. Gak heran sih, soalnya Lekker Paimo variasinya banyak dan enak rasanya.

Ini video Lekker yg rasa pisang keju coklat lg dibuat. 3 Lekker lagi adalah pisang caramel, telor keju dan tuna telor. Yum! Semuanya Rp 27.000.

ย ย ย 

Setelah dapat Lekker di tangan sebagai bekal, kami menuju Candi Gedong Songo.

DCIM101MEDIA
Candi Gedong Songo I

ย ย 

Candi ini berlokasi di Bandungan, tepatnya Lereng Ungaran yg jaraknya dekitar 45 KM dr Semarang. Berarti sekitar 1,5 jam kami naik motor. Candi warisan Hindu ini sebenarnya ada 9 bangunan yg dibagi dalam 5 lokasi yg tidak terlalu dekat. Makanya disebut Songo. Sampai lokasi kami bayar tiket terlebih dahulu, Rp 6.000/orang. Lalu saya & Erfan lihat ada peta Candi dan harga tarif kuda kalau mau naik kuda sampai ke atas. Memang akan sejauh apa ke atas?ย 

ย 

Menuju Candi Gedong Songo I lumayan nanjak jalannya. Sampai disana, saya lihat banyak pengunjung yg lagi foto-foto. Jd saya putuskan untuk istirahat sebentar sambil makan Lekker. Sudah makan & halaman Candi kosong, kami turun, pasang peralatan & bergaya di depan kamera ๐Ÿ™‚

DCIM101MEDIA

DSC_2175
Setelah foto-foto selesai, kami beranjak ke Candi II yg letaknya di atas lagi. Sekarang saya tau kenapa kuda laku disewa disini. Karena ternyata mulai dari Candi ini naiknya pake perjuangan saudara-saudara, terutama buat saya ๐Ÿ˜€

DSC_2184
Melewati jalur panjang, nanjak dan berbatu bikin saya ngos-ngosan. Beberapa kali saya berenti buat atur napas, tapi terhibur sama pemandangan yg bagus di atas. Kayaknya memang sengaja kita harus lewat jalur ini, strategi buat yg capek nanjak, bisa mampir di salah satu warung makan & minum. Jalur kanan, saya sih bilangnya. Karena kalau ambil jalur kiri lebih terjal & dipakai kuda sebenarnya. ย Jalur kiri ini juga yg nantinya akan kita lewati begitu turun.

Sampai di Candi II rasa capeknya terbayar. Udara dingin, pemandangannya bagus, ditambah Candi yg berdirih kokoh. Really, what could you ask for more?

DSC_2188
DSC_2227DSC_2238DSC_2216
Lanjuut ke lokasi Candi III, ada 3 bangunan Candi disini. Ini favorit saya. Jaraknya pun gak sejauh dari Candi I ke Candi II, Candi III udah keliatan dari kita berdiri di Candi Ii.

DCIM101MEDIA
DSC_2253DCIM101MEDIA
DCIM101MEDIADSC_2270
Gak terasa waktu sudah lewat dr jam 16.00. Erfan ngajakin ke Candi Gedong Songo IV & V, tapi saya nolak. Lokasinya masih jauuuh disana sedangkan masih ada 1 lokasi lg yg kami incar. Ya, sebenarnya saya jg udah gak bergairah untuk traking lagi sih hihi ๐Ÿ˜€ jadinya kami turun menapaki jalur kuda, sambil melihat di bawah sana pemandian air panasnya. Kalau gak kesorean & buru-buru ke objek berikutnya kami pasti berendam disana dulu.

Sampai kota Semarang makin sore, pas adzan maghrib kami sampai di tujuan kami, Masjid Agung Semarang.

DCIM101MEDIA
Karena sedang halangan, saya menunggu Erfan yg lagi sholat maghrib sambil foto. ini salah satu Masjid paling bagus & keren yg saya pernah injakan kaki. dekorasinya berwarna biru, halamannya luas. ada 6 buah payung besar yg katanya dibuka pas Sholat Jumat. Ohya kalau dari hadap foto ini, kalau kita tengok ke kiri, bakal keliatan bukit-bukit penuh titik-titik lampu. indah banget Semarang ih ๐Ÿ™‚

DSC_2282
can you see the moon?

DSC_2275DSC_2281

Peta lokasi Masjid Agung Semarang ada disini ya.

Dari Masjid Agung kami cari makan malam, makanan khas Semarang, yg sudah kami idam-idamkan sejak masih di Jakarta. Apa lagi kalau bukan Nasi Goreng Babat. Uw yeah. Tahun 2009 pernah gak dengaja ketemu Nasi Goreng Babat ini waktu saya jalan-jalan ke Semarang sama keluarga di rumah. Niatnya waktu itu mau makan di warung makan favoritenya Pak Bondan, tapi karena tutup jadinya makan di warung Nasi Goreng Babat Sumarsono di daerah Puri Anjasmoro. Ya, karena rasanya yg enak, gak berminyak serta harga terjangkau lah (waktu itu Rp 12.000) ย yg bikin kami bela-belain dari Ungaran untuk kembali menyantap Nasi Goreng Babat Soemarsono.

Nasi Goreng Babat
Nasi Goreng Babat

Rasa masih sama enaknya, harga masih terjangkau (Rp 17.500) tapi ada yg beda. Saat kami sampai, warungnya ramaaai sekali. Sungguh beda dr kami datang 6 tahun lalu, sekarang warung ini sudah banyak dikenal. Ini alamatnya:

Nasi Goreng Babat Pak Sumarsono
Jl. Anjasmoro Raya No. 54 (Anjasmoro), Semarang, Jawa Tengah
Perut kenyang, hati senang, jadi (harapnya) bisa tidur senang. Habis makan malam ini kami langsung kembali ke hotel untuk istirahat karena esok hari harus berangkat pagi buat cari oleh-oleh sebelum waktu batas check out.
19 Agustus 2015
Pagi-pagi saya & Erfan sudah beres-beres barang di tas sebelum cari sarapan & beli oleh-oleh. selesai beres-beres, kami langsung menuju Warung Makan yg menjual Nasi Koyor. Walapun sebenarnya belum paham bener koyor itu apa. sempet kelewatan, akhirnya ketemu juga. Warung Makan Mak Mi, Spesial Torpedo.

DSC_2360

Buka dari jam 07.00, pas kami sampai kebetulan Warung masih sepi. Ibu penjual yg saya duga Mak Mi sendiri tanya mau makan dengan apa. Oh, ternyata ini seperti warung nasi biasa. Lalu saya tanya apa itu koyor & enaknya dengan apa aja makannya. Kata beliau, Koyor itu lemak sapi yg dimasak lama dengan bumbu jadi empuk & penuh rasa. Ok, kita coba! Saya pesan pake serundeng & gudeg juga, sesuai saran beliau.

Sempet ngobrol sebentar karena Ibu Mi tanya kami dari kami mana. “Jalan-jalan nih? Kulineran juga ya?” Betul sekali, ibu ๐Ÿ˜€

DSC_2355

Liat itu yg warna hijau? jangan tertipu kayak saya. Gak semuanya itu kacang panjang, tapi ada cabe rawitnya juga. pedes pait banget waktu dimakan. Bisa disingkirin ya, aman. Tapi pedes sebenernya ada di sambel merah di atas gudeg itu, saudara-saudara ๐Ÿ˜€ tapi cocok banget sama manisnya gudeg, serundeng dan koyor itu sendiri. Lemaknya gede, lembek, lembut, meleleh di mulut. bumbunya jg terasa banget. huaah..

Sebelumnya Erfan bingung mau makan apa, soalnya begitu masuk warung, ada banyak artikel koran yg ditempel tentang torpedo yg dijual Mak Mi laku keras. Sepertinya dia tertarik. Saya bilang aja, “buat apa kita ke warung spesial torpedo kalau gak pesen torpedo? pesen gih!” Hahaha.. Maka datanglah torpedo di meja makan.

DSC_2348

Sempet disuruh nyicip sama Erfan, ternyata teksturnya mirip ati ya (which is I don’t like). tapi bumbunya sama dengan koyor yg saya makan. saya liat si Ibu ngambilnya di panci yg sama dengan koyor soalnya.

DSC_2353

Yang kami suka dari Warung ini juga, kata si Ibu kita bisa pesan porsi mulai dari Rp 15.000 lho. sesuai maunya kita aja ๐Ÿ˜‰ asik kan?! kami aja makan cuma Rp 30.000 sudah sama es teh tawar, kerupuk gratis. ini petanya saya kasih juga ya.

Selesai sarapan berat, kami bermaksud mampir ke Terminal Sukun dulu untuk beli tiket bus, sebelum cari oleh-oleh di pusat oleh-oleh Kampoeng Semarang. Tadinya mau naik PO Nusantara (Rp 40.000) dengan bus patasnya, tapi setelah ngeliat Sumber Alam busnya travel, kami putuskan untuk beli tiket Sumber Alam saja (Rp 50.000). Tapi kata petugas Sumber Alam lebih baik bayar tiketnya nanti sebelum bus berangkat aja. Jadi saya cuma pesan kursi untuk saya & Erfan di jam 14.00 lalu cabut ke daerah Tambakrejo, Gayamsari.

Disana ada galeri tempat oleh-oleh Semarang, kalau kita mau alternatif selain Bandeng Juwana atau Lunpia. Di Kampoeng Semarang saya dapat magnet kulkas (Rp 5.000-12.000/buah) & gelang (mulai dr Rp 5.000) untuk oleh-oleh. ini lokasinya:

Selesai cari oleh-oleh, kami ke Bandeng Juwana di Jl. Pandanaran buat beliin Tante di Yogya & Wingko Babat buat dimakan sendiri. Erfan ngiler juga soalnya ๐Ÿ˜€ buru-buru kami kembali ke hotel untuk check out (jam 11.00). Untung barang udah beres, kami sampai Hostel jam 10.45 ๐Ÿ˜€ tanya sama resepsionis dimana bisa makan es puter yg buka, ternyata gak tau. karena rencananya kami mau makan Es Puter Cong Lik, tapi jadwal yg padat bikin saya & Erfan gak sempet cicip. lain kali kembali ke Semarang lagiii ๐Ÿ™‚

Karena masih ada waktu 3 jam sebelum kembaliin motor di Terminal Sukun, saya browsing warung Tahu Pong dadakan di internet. well, Erfan sih sebenernya yg cari. kalo yg dadakan-dadakan gitu dia lebih jago browsingnya, lebih sabar ๐Ÿ˜€ lalu kami tiba lah di rumah makan Tahu Pong Semarang. ini lokasinya:

Rumah makannya sebenernya ruko 2 lantai yg gak terlalu besar. di bawah cuma ada sedikit kursi, jadilah kami ke lantai 2, bawa-bawa carrier sambil diliatin orang se-rumah makan (makin terbiasa, haha!).

Saya pesan Tahu Kopyok Telur (Rp 18.000) yg adalah tahu potongan kecil digoreng bareng kocokan telur yg ada daun bawangnya. Erfan pesan Tahu Telur (Rp 10.000). Kami sama-sama dapat saus cocolan yg kalau saya tebak ada minyak wijennya. Tahu yg panas baru aja digoreng, disiram saus kecap, dimakan bareng acar timun. Mmm.. krenyes, gurih tapi segeeerr..

DSC_2368
Tahu Pong di atas Tahu Kopyok Telur

Saya dikasih tahu sama telur, kalem deh. dua-duanya favorit saya soalnya hehe.

Masih ada waktu, kami akhirnya mampir ke salah satu warung kaki lima yg menjual es. Es Marem namanya, lokasinya di depan kantor pos. Marem artinya puas, jadi dijamin puas minum es ini karena isinya macam-macam. Kami pesen Es Marem Campur. jadi seperti Es Campur tapi airnya ditambah perasan air jeruk, jadi makin seger saja. kami makan bareng 2 ibu yg ngeliatin kami dari pertama parkir motor dengan tas carrier gede-gede. akhirnya bertanya, “naik gunung ya, Dek?” hehe. “Enggak, Ibu. Jalan-jalan aja,” jawab saya. singkat cerita saya cerita ini dalam rangka jalan-jalan se-Jawa & Bali, berdua aja, naik kereta & sewa motor di tiap kotanya. Ini lagi buang waktu sebelum naik bus ke Yogya. Keliatan dari wajahnya, si Ibu dari heran sampe (akhirnya) takjub. “Ibu baru tau kalau ada sewa motor gitu. Berapa per harinya?” Dan sebelum beranjak pergi si Ibu & temannya bilang, “Ibu duluan ya, Dek. hati-hati di jalan.”

Karena denger perbincangan kami, Mas penjual Es jadi ngajak ngobrol juga. ternyata dia tau daerah tempat tinggal saya, Ciputat ๐Ÿ˜€ pernah jadi TKI, belajar di Jakarta, Riau, Sulawesi, juga Aceh. Kemudian pulang ke Semarang & nikah, jadi penjual Es Marem yg punya 14 cabang. Rejeki mana ada yg tau ๐Ÿ™‚ selesai ngobrol, saya & Erfan beranjak pergi menuju Terminal Sukun.

Sampai di Sukun masih ada waktu 1/2 jam sebelum jam 14.00. bayar tiket bus yg sudah dipesan sebelumnya, kami menunggu di kursi panjang bareng calon penumpang lainnya. 10 menit sebelum berangkat kami naik bus travelnya Sumber Alam & duduk manis di belakang supir sambil pegang Wingko Babat buat bekal. Bismillah. perjalanan menuju Yogyakarta dimulai ๐Ÿ™‚

NB:

Kamera yang dipakai dalam postingan ini adalah Nikon 3200 , iPhone 5s dan Xiaomi Yi. Kalau tampilan foto di postingan ini buram/berbayang, coba klik/lihat foto sebenarnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s